Indahnya Cinta
>> Senin, Juli 27, 2009
Rasa cinta bukan sesuatu yang salah apalagi tercela. Cinta adalah kehidupan sekaligus cahaya. Manusia akan berada dalam lautan kegelapan bila kehilangan cinta. Cinta adalah jiwa bagi amal dan iman. Jika tiada cinta, amal dan iman bagai jasad tanpa nyawa.
Dengan cinta, langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya diciptakan. Atas dasar cinta pula semua makhluk diberi fitrah masing-masing. Dan dengan cinta semua gerakan bisa mencapai tujuannya. Bahkan cinta merupakan obat yang bisa menghilangkan penyakit yang bersarang di hati seseorang. Kebahagiaan pun akan dirasakan bagi mereka yang meraihnya.
Namun cinta bisa menjadi ancaman sekaligus bencana bila salah ditempatkan. Apalagi bila manusia menyerahkan cintanya pada sesuatu yang bukan haknya dan tidak sesuai dengan porsinya. Renungkanlah firman Allah: “Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggu sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik,” (QS At-Taubah:24).
Cinta yang bisa menjadi bencana adalah cinta buta yang tidak mempedulikan rambu-rambu etika dan akhlak. Ini karena manusia yang terperangkap dalam cinta buta terbuai oleh keindahan semu yang menipu. A’ray berkata, “Cinta buta menerkam hati, menggetarkan sanubari, apinya menyala di dalam perut, seluruh anggota tubuh menjadi pembantunya. Dimana hati orang yang dimabuk cinta menjadi layu, air matanya meleleh, tubuhnya melemah.”
Ada pun cinta yang dibutuhkan sekaligus puncak kenikmatan tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT, karena Dia merupakan tujuan utama, obyek termulia, dan maksud terbesar bagi semua hamba. Barangsiapa yang dicintai Allah, maka segala beban yang dihadapi menjadi ringan, segala perasaan takut menjadi aman. Mendung kegelapan, kecemasan, kesulitan, dan kesedihan dalam hatinya lenyap. Berganti dengan cahaya terang, keridhaan, kemudahan, dan suka cita.
Allah akan menjaga dan melindungi anggota tubuh hamba yang dicintai-Nya dari yang nista dan menghinakan. Jadilah ia orang yang do’anya dikabulkan, dan dijadikan penghalang dari kenikmatan serta nafsu syahwat yang membuai. Allah juga akan memberi cahaya pada akal pikirannya, agar sang hamba menyibukkan lisan dengan menyebut nama-Nya. Kemudian Allah menolongnya dengan mempermudah segala urusannya, tanpa harus merendahkan akhlaknya. Allah juga melapangkan zahir dan batinnya, menjadikan cita-cita dan tujuan hidupnya hanya untuk mencari ridha-Nya.
Allah juga akan menjadikan diri sang hamba diterima oleh penduduk bumi, sebagaimana sabda Nabi saw: “Sesungguhnya, apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril seraya berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan, untuk itu cintailah dia. Lalu Jibril mencintai hamba tersebut seraya berkata: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit dan bumi pun mencintainya,” (HR Imam Malik).
Read more...
Dengan cinta, langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya diciptakan. Atas dasar cinta pula semua makhluk diberi fitrah masing-masing. Dan dengan cinta semua gerakan bisa mencapai tujuannya. Bahkan cinta merupakan obat yang bisa menghilangkan penyakit yang bersarang di hati seseorang. Kebahagiaan pun akan dirasakan bagi mereka yang meraihnya.
Namun cinta bisa menjadi ancaman sekaligus bencana bila salah ditempatkan. Apalagi bila manusia menyerahkan cintanya pada sesuatu yang bukan haknya dan tidak sesuai dengan porsinya. Renungkanlah firman Allah: “Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggu sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik,” (QS At-Taubah:24).
Cinta yang bisa menjadi bencana adalah cinta buta yang tidak mempedulikan rambu-rambu etika dan akhlak. Ini karena manusia yang terperangkap dalam cinta buta terbuai oleh keindahan semu yang menipu. A’ray berkata, “Cinta buta menerkam hati, menggetarkan sanubari, apinya menyala di dalam perut, seluruh anggota tubuh menjadi pembantunya. Dimana hati orang yang dimabuk cinta menjadi layu, air matanya meleleh, tubuhnya melemah.”
Ada pun cinta yang dibutuhkan sekaligus puncak kenikmatan tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT, karena Dia merupakan tujuan utama, obyek termulia, dan maksud terbesar bagi semua hamba. Barangsiapa yang dicintai Allah, maka segala beban yang dihadapi menjadi ringan, segala perasaan takut menjadi aman. Mendung kegelapan, kecemasan, kesulitan, dan kesedihan dalam hatinya lenyap. Berganti dengan cahaya terang, keridhaan, kemudahan, dan suka cita.
Allah akan menjaga dan melindungi anggota tubuh hamba yang dicintai-Nya dari yang nista dan menghinakan. Jadilah ia orang yang do’anya dikabulkan, dan dijadikan penghalang dari kenikmatan serta nafsu syahwat yang membuai. Allah juga akan memberi cahaya pada akal pikirannya, agar sang hamba menyibukkan lisan dengan menyebut nama-Nya. Kemudian Allah menolongnya dengan mempermudah segala urusannya, tanpa harus merendahkan akhlaknya. Allah juga melapangkan zahir dan batinnya, menjadikan cita-cita dan tujuan hidupnya hanya untuk mencari ridha-Nya.
Allah juga akan menjadikan diri sang hamba diterima oleh penduduk bumi, sebagaimana sabda Nabi saw: “Sesungguhnya, apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril seraya berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan, untuk itu cintailah dia. Lalu Jibril mencintai hamba tersebut seraya berkata: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit dan bumi pun mencintainya,” (HR Imam Malik).